2.3 Lelakiku Bule Belanda (true story) Chapter 2c: Cukup Sampai Di Sini

C. Cukup sampai di sini.

 

“Hai, apa kabar mu?” Tanya ku.

“Aku baik.” Jawabnya.

“Belakangan ini sepertinya kau menghindari dariku. Apa cuma perasaanku saja ya?” Tanyaku lagi.

“Aku sangat sibuk sekali, Kamu tau sendiri aku harus bekerja keras mengumpulkan uang untuk ke Indonesia. Itu aku lakukan sambil belajar. Tentu saja kelulusanku amat penting, sehingga kamu tidak terlalu lama menunggu. Semakin cepat semakin baik bukan?” Jelasnya lagi.

“Hmmm…, tapi aku merasa ada sesuatu yang kau sembunyikan.” Aku memaksanya menceritakan lagi.

Dan dia pun mengatakannya… “Aku merasa hubungan ini tidak seimbang”

Benar saja. Geart menyembunyikan satu hal yang paling saya takutkan. Ketika si pangeran ini terbangun dari mimpi panjangnya. Dan menyadari pengorbanannya begitu besar dan begitu melelahkan, hari untuk mengeluh itu datang juga.

Geart melanjutkan, “Kamu sebenarnya adalah wanita yang mahal. Aku harus mengumpulkan uang sambil tetap bersekolah untuk bisa menemui mu demi 20 hari saja. Kadangkala bisnisku tidak lancar, kebetulan aku harus menghemat pengeluaranku juga. Jadi aku berhenti merokok sekarang. Aku juga menghentikan hobi berperangku dari klub paintball, karena biayanya cukup mahal. Kebetulan lagi, semua itu belum juga cukup. Aku terpaksa menjual setengah dari koleksi CD ku untuk bisa membeli tiket. Bukankah semua itu pengorbanan yang cukup mahal?”

“Iya, tentu saja.” Jawab saya. “Aku bangga pada mu”

“Aku juga sudah membeli cincin berlian untuk melamar mu” lanjutnya.

“Kenapa harus berlian? Itu kan mahal”

“Sesorang yang sangat berarti memang harus dilamar dengan berlian. Begitulah tradisi di sini. Tapi aku harus memperbaiki ukurannya agar sesuai dengan ukuran jari mu. Aku juga sekaligus menguji keasliannya dan meminta serifikatnya. Tapi jangan kuatir… Aku hanya membeli cincin bekas milik seseorang melalui ebay, jadi tidak mahal.”

READ  Sobat, Maafin Gw

“Di sini bekas dan baru saja saja harganya, dan sudah biasa menjual bekas ke toko mas” Jelas saya. Walaupun agak sedikit sedih di dalam hati mendengar penjelasannya yang sepertinya lelah, tapi saya tetap ingin mendengar pandangannya tentang hubungan yang tidak seimbang tersebut. “Jadi apa maksud mu dengan hubungan ini tidak seimbang? Aku tidak pernah mendengar kamu keberatan… Apa kamu keberatan?

“Tidak” Jawabnya. “Aku hanya tidak tau harus bagaimana lagi menjelaskannya pada ibuku, bahwa aku melakukan semua ini atas kemauanku. Tidak ada paksaan dari mu. Aku sudah menjelaskan bahwa kamu adalah wanita yang luar biasa, kamu pantas diperjuangkan. Tapi ibu ku tidak bisa melihatnya, bahkan merasakannya.”

“Tentu saja” Jawab saya. “Dia belum kenal aku kan. Ini cuma masalah waktu. Dan kamu pernah bilang, setuju atau tidak, tentunya kamu tetap bisa menikah dengan siapa saja. Lalu apa masalahnya?”

“Masalah? Nee, ini bukan masalah… Tapi aku hanya ingin menghargai pendapat ibuku. Ibuku punya permintaan, yang sebenarnya ini mungkin tidak akan bisa kamu sanggupi. Aku tau kondisi mu. Saat ini kamu tidak punya apa-apa dan tinggal dengan orang tua. Tetapi bukankah kalian memiliki budaya saling membantu satu sama lain? Jika seseorang dalam kesulitan maka saudara lainnya akan membantu bukan? Aku rasa saudara-saudara mu dan orang tua mu mampu. Bahkan aku melihat adik-adik mu sangat sukses. Ibuku tidak percaya kamu masih tinggal dengan orang tua dan harus menuruti semua perintah ayah mu. Ibuku hanya melihat aku saja yang bersusah payah mengunjungi mu ke Indonesia sementara kamu hanya diam dan menunggu. Aku ingin kamu bisa membuktikan bahwa kamu juga mau berkorban untuk ku, cukup dengan datang ke sini menemui ku.”

READ  Kasus Tahi Lalat Sebesar Koin Kecil Prita

“Apa??? Teriak saya. “Kamu gila ya?” Mana mungkin aku bisa pergi ke Belanda menemui mu… Kamu pikir, pergi ke sana uangnya sedikit? Kamu kan tau aku baru saja kena musibah. Kota ini baru saja kena gempa, gedung plaza rusak dan toko-toko kami tutup semua. dan kami tidak bisa berjualan selama enam bulan. Hutangku di bank untuk membuka toko ini saja belum terlunasi. Sama saja kami sudah bangkrut.”

“Permintaan mu ini tidak semudah yang kau bicarakan.” Lanjut saya. “Di samping itu ayahku pasti tidak mengijinkan. Aku sudah bilang, ayahku sangat protektif. Bahkan primitif. Ingat ketika kamu ketinggalan pesawat, kamu harus membeli ulang tiket pesawat ke Amsterdam untuk esok hari, tapi ayahku tidak peduli, dan aku harus merengek kepada ayahku untuk mengijinkan mu tinggal di rumah itu satu hari saja. Ingat ketika aku mengantar mu mencari hotel ketika kamu baru saja sampai di Padang, ayah ku menghardik dengan keras untuk berhenti menemani mu bukan? Apa kata orang… Apa kata tetangga… Apa kata temannya, siapa yang mau lagi jadi suamiku jika aku sudah keluar masuk hotel bersama bule? Siapa yang peduli dengan alasan bahwa ‘aku hanya membantu!’. Ingat juga ketika kita berjalan di kampung, ibuku menyuruhku menjaga jarak setidaknya satu meter untuk berjalan seiring bersama mu selama di kampung. Dan taukah kamu bahwa ayahku belum pernah memanggil nama mu dengan lurus? Bahkan dia tidak mau mengingat namamu. Dan lain-lain situasi dimana tidak akan ada harapan dari ayahku untuk melepas ku pergi ke sana! Jelas???”

“Aku rasa sudah jelas.” Jawabnya lirih.

“Apa kau ingin aku keluar dari rumah orang tuaku? Pergi dari sini? Sehingga aku kembali seperti dulu, aku bebas pergi kemana pun dan bebas menentukan apapun yang aku mau. Tapi sekarang aku tidak punya uang. Bahkan kau seringkali membantu. Sekarang apa kau sanggup membantuku sepenuhnya jika aku hidup sendiri?” Hentakan emosi yang semakin keras membuat suara saya meninggi. Saya merasa tersudut namun tidak bisa berbuat apa-apa selain membela diri.

READ  Trauma menjadi anak yang dinilai tidak baik sekaligus parno menjadi calon ibu yang akan dinilai tidak baik.

“Tentu saja tidak” Jawabnya. “Aku tidak pernah menginginkan mu untuk menghianati orang tua mu. Tapi sepertinya kau membebankannya lagi padaku. Apa semua pengorbananku belum cukup?”
“Mungkin ibuku memang benar. Dia menyangsikan bahwa cintamu padaku tidak sebesar cintaku padamu. Aku akan terus mengejarmu dan memperjuangkan mu hingga aku lelah. Dia meragukan kemauan mu untuk berkorban dan hanya akan mengelak dari kewajiban. Selama ini pengorbananku sudah cukup tentunya, dan sekarang aku sedang menguji mu. Dan benar saja, kamu mengelak”.
“Untuk kamu ketahui, aku sudah memeluk islam, aku membaca cara-cara nya dari kumpulan buku ayahku. Bahkan ayahku punya kitab Alquran. Aku sudah membaca dua kalimat syahadat itu. Semua aku lakukan untuk mu. Tapi sekarang benar-benar sudah jelas sekali. Kamu memang tidak mau melakukan apa-apa untukku. Aku tidak meminta hal lain, hanya ini saja. Aku harap kamu memikirkannya lagi. Dan bicarankanlah dengan keluarga mu. Kamu ingin bersuami bukan? Jika kamu tidak berbuat apa-apa, aku rasa hubungan kita pun cukup sampai di sini saja.”

Bersambung.

 

IMG_1773

 

Facebook Comments

7 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.