3.1 Lelakiku Bule Belanda (true story) Chapter 3a: “Aku datang melamarmu”

Berlian… siapa yang tidak mau? Saya!

“Hai Honey, saya beli cincin untuk kamu. Nanti saya akan melamarmu jika saya sudah sampai di Indonesia.” Begitu isi email yang di sampaikannya berikut foto dua buah cincin berlian. Namun hati saya menjadi sangat sedih ketika dia menjelaskan bahwa cincin ini dibeli dari uang tabungan yang sudah lama dia kumpulkan.

“Kamu tahu ibu mu tidak suka kamu menghamburkan uang untuk ku. Tapi kali ini kamu membuatnya lebih kecewa lagi” ungkap saya. Saya tidak butuh berlian. Saya tidak butuh apa-apa. Kita tidak perlu bertunangan, kita tidak butuh cincin itu…, seandainya nasib mengijinkan persatuan, maka kita akan langsung menikah saja. Nanti kita beli saja emas di Indonesia, tidak mahal dan tidak perlu berlian.

***

“Hai Honey, bisakah kamu mencarikan aku tempat tinggal untuk kunjungan ku kali ini? Cukup kos-kosan saja seperti tahun lalu.”

***

Resah dan gelisah mendera setiap saat sejak Geart menunjukkan kesungguhannya ingin bicara dengan ayah dan melamar saya. Apakah dia akan baik-baik saja sampai di Indonesia. Apakah kesialan tahun lalu tidak akan terulang, ketika dia ketinggalan pesawat ke Malaysia, kemudian tiket pesawat berikutnya ke Inggris di hari yang sama pun hangus. Kemudian tiket keretanya dari London ke Belanda pun hangus. Dan dia harus tidur di stasiun London semalam di musim dingin dengan cuaca yang sangat dingin, karena semua jadwal yang berantakan dan harus membeli ulang semua tiket untuk keberangkatan esok hari. Dan semua itu karena SAYA! Ya saya. Saya menawarkan untuk mengantarnya ke bandara dan terlambat menjemputnya saat subuh hari itu. Hanya cucuran air mata dengan berlari ke sana ke mari di bandara – itu yang bisa saya lakukan. Namun dia tetap tenang dan berkata “Dont worry, shit happens”.

Tidak cukup penderitaannya sampai di situ, dia pun sudah keluar dari kos-kosan nya dan menenteng koper yang berat. “Kemana akan kubawa dia” pikir saya. Di rumah tidak ada siapa-siapa, dan saya dilarang membawanya ke rumah di saat rumah kosong. Akhirnya kami singgah di sana sini hingga petang, sampai pada saat saya meminta ijin ayah untuk dia menginap semalam di rumah karena tiketnya untuk esok hari sudah di beli. Ayah bilang “tidak boleh!”

READ  Mencoba Untuk Tidak Mengeluh

***

Akhirnya hari itu datang juga. Hari dimana saya menjemput calon suami saya di bandara. Dia datang dengan selamat, tak kurang satu apapun. Saya hantarkan dia ke kosannya yang tak jauh dari rumah. “Kalau mau naik ojek bisa 7.000 rupiah. Kalau mau naik angkot sambung dengan ojek itu Rp. 2.000 dan Rp. 3.000” Demikian penjelasan saya. Namun setelah naik ojek satu hari, akhirnya Geart berjalan kaki untuk menghemat 2.000 rupiah dan 3.000 rupiah. “Lumayan kan, nanti saya bisa belikan kamu sesuatu” Jawabnya.

Bagaimana mungkin saya tidak mempertahankan pria ini? Bagaimana mungkin saya melepasnya? Bagaimana mungkin saya lelah dan pasrah dengan semua tantangan dalam hubungan ini, ketika dia mengorbankan hidupnya dan semua untuk saya?!

***

“S E M A N G A T !!!” “Ayo kamu pasti tahan!”

***

“Ayah, bisakah ayah menunggu Geart dan temannya hari ini akan datang mau bicara.” Demikian saya sampaikan kepada ayah hari itu. “Ada hal penting yang mau dia bicarakan”. Namun ayah sudah diambang pintu hendak ke luar rumah. Memanglah salah saya untuk bicara mendadak, tapi Geart tidak bisa menentukan waktu karena dia pun harus menunggu Naga – nama temannya itu. Di luar dugaan, saya pun mendapat jawaban yang membuat saya kecewa dari ayah. “Ayah ada janji dengan orang, dan harus buka toko sekarang”. “Tapi ini penting” Dalih saya. “Bagaimana kalau Via saja yang buka toko, jadi ayah tunggu Geart” Jawab ayah. Begitu tenang dan santai intonasi jawaban ini, tapi buat saya bagaikan petir beserta tsunami yang mendesak air mata keluar bercucuran. Bagaimana mungkin ini jawaban yang saya terima, ketika saya menunggu calon suami saya yang akan datang untuk melamar, dan meminta ayah mendampingi saya, kemudian beliau menyuruh saya menggantikannya di toko.

READ  Sobat, Maafin Gw

Di lubuk hati saya yang terdalam, saya berang sekali pada ayah. Begitu teganya beliau mementingkan tokonya. Begitu teganya beliau telah memanggil calon suami saya Jack tanpa peduli namanya. Begitu teganya beliau memperolok pacar saya dengan bahasa yang tidak dipahami Geart bersama temannya di depan kami. Begitu teganya ayah menghardik saya di telephon karena saya belum juga sampai di rumah sebab mencarikan Geart tempat tinggal waktu itu. Begitu teganya ayah tidak mengijinkan Geart menetap semalam di rumah karena ketinggalan pesawat, sampai saya merengek dan Geart tidur di kursi tamu menunggu saudara laki-laki saya pulang untuk masuk ke kamarnya di malam hari. Begitu teganya ayah. Begitu teganya.. begitu teganya.. perih saya sudah ke ubun-ubun. Saya benci sekali pada beliau masa itu.

Perih dan pedih saya semakin mendalam terhadap keluarga saya. Tidak satu pun yang mendukung saya. Setidaknya itulah yang saya rasakan semenjak kami berhubungan. Tidak satu pun yang mengganggap hal ini akan berujung bahagia. Tidak seorangkan percaya bule ini mencintai saya. Tidak seorangpun peduli saya sudah cukup menderita.

Semangat saya semakin lemah ketika Geart datang dengan temannya Naga, dan menjelaskan kepada saya bahwa dia akan meminta kepada ayah saya untuk memberinya waktu 1,5 tahun lagi untuk menikahi saya.

Bersambung…

Ditunggu sambungannya ya, lagi di bikin. 😀

Jangan lupa klik LIKE dan SHARE kalo suka. Mudah2an cerita saya menginspirasi baik orang tua ataupun kawula muda yang lagi berjuang dalam cinta. SEMANGAT!

Facebook Comments

5 Comments

  • Anonymous

    kak viaaa . kok aku jadi ngeri aku juga sama lagi pacaran sama orang belanda , brondong juga . beda 3 tahun sama aku . apakah ini yang bakal aku alami jugaaa omaigaaaaatttt hahah jd takut

  • darawenti

    kak via aku ngerti rasanya , pacarku sekrg juga org belanda. kita sudah 2 tahun. tp bedanya ayah dan kluarga saya demokratis dan terbuka cuma satu syarat dari dia, jangan pernah saya meninggalkan agama. kekasih saya harus lah islam atau mualaf. sampe sekarang ini yg masih mengganjal di hati. mba via, bisa kita sharing lebih dekat?

    • Caprivhia

      memang orang eropa tidak mudah menyukai islam, terlebih dengan apa yang terjadi belakangan ini dengan mengatas namakan islam. Suami saya malah bapaknya pendeta. tapi inti nya kamu sendiri… kalo kamu meninggikan agama mu lebih dari apapun, maka dia sendiri akan manut. orang luar yang utama oleh mereka itu ya cinta. semua dilakukan atas nama cinta.

  • Ena

    Hello Kak Via, aku lagi ldr sama pria belanda. Kita sudah bertemu tahun ini di Indonesia, kita juga udah buat rencana dari dia mau convert islam, sampai pernikahan tapi aku bilang kedia buat nunggu aku selesai kuliah dulu (2020) itu masih lama, dia bilang oke tapi dia minta aku buat mengunjungi negaranya tahun depan. Katanya aku harus ketemu dulu ortunya, kalo mau merid. Tapi ortu ku ini gak izinin aku buat pergi kenegaranya sebelum menikah. Gimana ya cara buat minta izin ke mereka?

Leave a Reply

Your email address will not be published.