Part 12: Berkenalan dengan Teman-Teman sang Pacar

Berkenalan alias dikenalkan kepada teman-teman dekat adalah misi wajib promosi seorang pacar. Alasan standar yang umum adalah supaya mereka saling kenal. Alasan lain adalah promosi, kebanggaan, minta dukungan, atau untuk pajangan. Nah, dengan alasan yang menurut gw standar, Geart membawa gw ke rumah dua pasang teman dekatnya yang tinggal satu kota dengan doi.

Berkunjung ke rumah AA

A dan A adalah inisial dari dua orang yang tidak ingin gw sebutkan namanya. Sepasang pengantin baru ini baru saja menikah tahun lalu dan Geart ikut ambil bagian menjadi tuan rumahnya. Masing-masing suami istri ini sudah menamatkan kuliah dan bekerja di perusahaan. Menurut gw, kedua orang ini tipenya serius dan cermat. Menurut Geart, doi sangat dekat dengan teman perempuannya ini, karena A adalah orang yang sangat perhatian.

Ketika gw datang ke rumah AA, rumah mereka sedang direhab. Mereka sedang mengubah desain dan lokasi dapur. Hal yang menjadi catatan gw adalah, sepasang suami istri ini sedang mengerjakan rehab rumahnya sendiri. Tahu kenapa? Karena upah buruh di Belanda sangat mahal. Upah buruh per jam kalau di-rupiah-kan sekitar empat ratus sampai limaratus ribu. Sekali lagi, ‘per jam’ bukan ‘per hari’. Ini adalah upah untuk buruh yang terdaftar di pemerintah alias legal. Dan buruh inipun harus melaporkan pajaknya ke instansi terkait. Kalau upah buruh atau tukang bangunan di kampung gw adalah sekitar seratus limapuluh ribu sampai duaratus ribu per hari. Jadi, upah buruh di Belanda untuk delapan jam kerja bisa menghasilkan Rp. 4.000.000,- / hari. Saat berbincang-bincang mengenai pengerjaan dapur tersebut, mereka juga memperlihatkan desainnya ke gw. Desain tersebut didapatkan ketika mereka membeli kitchen set atau peralatan dapurnya seperti kompor gas, rak dan lemari dapur di toko furnitur. Berdasarkan penuturan A, setiap orang yang datang melihat atau hendak membeli kitchen set di toko di Belanda, mereka bisa meminta saran dengan menjelaskan ukuran dapurnya. Kemudian si marketing akan mendesain sketsa untuk dapur mereka.

Berkunjung ke rumah TM

READ  Part 15: Memasak di Ultah Camer

T dan M bukan suami istri, namun hidup seatap. Kalau ada orang Indonesia berbuat seperti ini, disebut dengan ‘kumpul sapi’. Eh, ngomongin soal sapi gw ingat sesuatu.

Intermezo

Waktu itu camer bapak lagi ngobrol sama gw, dan tiba-tiba camer bertanya, “Via, apa artinya ‘kepala botak, tai sapi!’”.

Heh? Gw diam dan menatap kepala camer yang memang botak bagian depannya bagaikan rembulan bersinar, bukan tai sapi. Daripada gw salah jawab dan menyakiti hati camer, akhirnya gw balik nanya “kenapa?”

“Ada teman saya orang Indonesia ketika di Primary School (SD) yang suka teriak-teriak kepada guru kami ‘kepala botak, tai sapi’. Saya bertanya apa artinya, tapi dia tidak mau memberi tahu saya. Akhirnya saya ingat terus ‘kepala botak tai sapi, kepala botak tai sapi, kepala botak tai sapi, kepala botak tai sapi, kepala botak tai sapi”

Oaalah… saking penasarannya si camer, dari SD sampai umur enampuluhan masih ingat dan akhirnya mendapat jawaban atas sebuah pertanyaan dalam hidupnya yang ditularkan oleh orang Indonesia. Ternyata pasca penjajahan di Indonesia, banyak sekali orang Indonesia yang menetap di Belanda dan mendapat perlakuan sama sebagai warga Belanda. Umumnya adalah para tentara Indonesia yang berperang membela Belanda. Camer gw masih punya foto SD hitam putihnya dan gw menyaksikan sendiri hampir setengah dari murid SD tersebut berwajah Indonesia.

***

Kembali ke pokok cerita, TM masih berstatus pacaran. TM belum memutuskan menikah. Di negara Barat, menikah adalah sebuah komitmen berat. Berat urusannya dengan pemerintah, berat tanggung jawabnya, dan berat juga kalau hendak bercerai. Oleh sebab itu, banyak pasangan yang memutuskan hidup bersama hingga punya anak dan mereka akan memutuskan menikah ketika merasa pasangan tersebut adalah satu-satunya orang yang tepat untuk menemaninya seumur hidup. TM juga pasangan yang masih muda, sekitar duapuluhan, namun T sudah berhasil memiliki rumah dengan bekerja sedari masa sekolah. TM memelihara sepasang kadal jantan dan betina yang diberi nama Geart dan Daniel. Memang jahil sekali orang ini memakai nama yayangku. Mereka menyaksikan setiap hari tingkah laku kedua kadal dengan nama temannya tersebut saat melampiaskan nafsu birahinya. Menurut TM, kadal melakukan kegiatan ritual ini lebih sering daripada kegiatan makan. Itulah sifat kadal.

READ  Extra Pictures - Belanda Trip

Mengundang Daniel makan malam

Daniel adalah teman satu tim Paintball yang bernama Hot Chick yang awalnya didirikan oleh mereka bersama-sama dan Geart sebagai ketua tim. Namun sejak Geart berubah profesi menjadi Fotografer, akhirnya Geart melepaskan hobinya bermain perang-perangan di Paintball. Sehubungan Daniel punya peralatan permainan Kolonisten, dan mereka ingin mengenalkan permainan ini ke gw, akhirnya gw mengundang Daniel makan malam di rumah Geart dan sesudahnya kita bermain Kolonisten. Kalau gw yang mengundang, berarti gw yang memasak.

Kolonisten van Katan

407962_285233358193713_215915218458861_863381_979141960_n

Permainan Kolonisten hampir mirip dengan permainan Monopoli. Bedanya, permainan ini lebih ngeBelanda. Pertama karena bahasa yang tertulis di kartunya adalah bahasa Belanda, kedua karena syarat membangun sebuah desa, kota atau metropolitannya adalah dengan kepemilikan lahan kayu, tambang batu, biji besi dan atau peternakan domba. Menurut gw permainan ini lebih seru karena ada tantangan mengenai lahan tandus yang dikuasai oleh si hitam. Jika dadu yang dilempar muncul angka 7, maka si pelempar dadu berhak meletakkan orang hitam di lahan subur lawannya hingga lahan tersebut dianggap tandus (hutan kayu, ternak domba, tambang batu, atau biji besi). Sehingga ketika dadu dilempar dan angka di lahan tersebut yang muncul, maka yang punya lahan tidak mendapat apa-apa (berupa sebuah kartu/sertifikat kepemilikan). Pada saat dadu dilempar angka tujuh dan si pelempar dadu ingin meletakkan si orang hitam di lahan gw; tahukah Anda apa yang saya lakukan? Sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan! Belajar dari negara gw, dengan prinsip menyogok, akhirnya gw membuat kesepakatan sebagai berikut; Saya akan beri kamu lahan yang kamu butuhkan, asal kamu tidak meletakkan si orang hitam itu di lahan saya. Deal?! Ya, deal! Hahahahhahhaha…

READ  Part 3: Hari Pertama di Belanda

 

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.