Cerpen: Bernafas dan Berzikir

Aku sudah genap duapuluh lima tahun pada masa itu, dan di usia tersebut, aku berjanji pada ayah untuk ikhlas dijodohkan dengan siapa saja bila aku belum juga jatuh cinta. Iya, jatuh cinta. Aku menerangkannya sangat detil kepada ayah, alasan mengapa aku tidak mau dijodohkan dua tahun lalu, karena aku belum pernah jatuh cinta. “Ayah, ijinkan saya mencari pacar sendiri.. beri saya waktu sampai umur saya 25, kalau saya tidak punya pacar juga, ayah boleh mencarikan saya jodoh”.

***

 Percaya nggak percaya, di usiaku yang tidak ABG tersebut, aku jatuh cinta untuk pertama kali. Si lelaki ini sangat menjengkelkan. Si lelaki ini juga membuat orang sekitar naik pitam setiap saat. Tingkah polahnya yang kekanak-kanakan dan sesuka hati, membuat teman-teman kos mengabaikannya. Tapi lain denganku, dia telah menarik perhatianku dan membuatku penasaran dengan kepribadiannya.

Waktu demi waktu, aku berbagi cerita dengan Heru. Ternyata Heru tidak seburuk yang dibayangkan. Walaupun umurnya lebih muda dariku, tapi komunikasi kita sangat lancar. Bahan obrolan, bahan ejekan, dan seleraku dengan Heru tidak jauh berbeda. Bisa dibilang sama-sama menjengkelkan dengan cara yang berbeda. Heru dan aku sama-sama orang gila dan usil.

Di saat-saat demikianlah getar cinta mulai terasa. Aku terpesona karena Heru pintar memetik gitar. Heru orang yang romantis dan nakal. Heru orang yang haus perhatian, sedangkan aku orang yang suka mengatur segalanya. Aku dan Heru sering bercanda seperti anak kecil. Aku sadar… umurku lebih tua, tapi tidak fikiranku yang ternyata juga kekanak-kanakan. Aku dan Heru sering bersama dan akhirnya aku jatuh cinta.

***

Aku sudah menjalani hubungan berpacaran dengan Heru beberapa bulan. Tidak seorangpun teman-teman kos mendukung hubunganku. Mereka sering berharap aku dan Heru hanya berteman saja, karena mereka sudah memastikan aku akan menderita. Aku sadar, tapi alam bawah sadarku menolak melepas Heru. Dia cinta pertamaku, dan aku dibuat jatuh cinta yang amat sangat.

READ  3.1 Lelakiku Bule Belanda (true story) Chapter 3a: “Aku datang melamarmu”

Di suatu ketika ayahku menelpon dan menanyakan tentang Heru. Aku menjelaskan bahwa aku baru saja menjalani hubungan dengan Heru dan meminta pengertian dari ayah. Ayah terdengar sangat khawatir. Apalagi mendengar cerita dari adik-adikku tentang bagaimana Heru bersikap. Ayah bersikukuh menginginkan aku putus dengan Heru, namun aku tetap menolak. Untuk menyenangkan hati ayah, aku jelaskan bahwa aku dan Heru tidak mungkin bersatu karena kami berbeda keyakinan. Aku butuh waktu untuk melepaskannya. Aku pikir penjelasanku menyenangkan, sebaliknya malah membuat ayah menangis.

Aku tahu bahwa kami tidak akan bisa bersatu, namun aku sangat mencintainya. Aku tidak sanggup melepas Heru. Akhirnya aku menjelaskan bahwa tidak seorangpun keluargaku setuju dengan pilihanku. Dari waktu ke waktu aku membahas ketidaksetujuan orang-orang sekelilingku, namun kita tidak pernah bisa membuat keputusan. Akhirnya suatu saat aku memutuskan Heru.

Aku dan Heru masih berada di satu atap rumah yang sama. Teman-teman kos berusaha menghiburku dan mendukung keputusanku. Tapi kami memang tidak sanggup berpisah. Kami tetap berhubungan seperti orang berpacaran walaupun sudah tidak memiliki status apa-apa. Aku sudah berusaha menghindar dan menginap di rumah teman selama beberapa hari, namun tetap tidak bisa menerima keadaanku yang baru.

 

***

Aku memang tidak sanggup. Aku membiarkan cintaku larut dan mengalir. Hingga pada suatu saat Heru membawa seorang perempuan yang diakui sebagai pacar barunya ke rumah kos. Mereka tertawa riang dan bercanda berdua. Aku tersentak tak berdaya dan tidak punya kuasa untuk berbuat apa-apa. Aku lunglai, lemas dan tidak sanggup menatap perempuan itu. Aku hanya mengingat dia menggunakan jilbab.

Aku mengalami emosi tak terkendali. Aku marah pada Heru, marah pada perempuan  itu dan marah pada diriku sendiri. Namun apa dasarku? Aku ini siapa? Apa hakku? Aku hanya ingin tidur. Setidaknya beberapa waktu hingga aku melupakan cintaku. “bisakah aku tidur di rumah sakit selang beberapa bulan?”. Aku tidak kuat menahan pedihnya harga diriku yang terasa diinjak-injak. Sedihnya merasa dipermainkan. Sakitnya hatiku melihat orang yang aku cintai sudah dipelukan perempuan lain.

READ  2.3 Lelakiku Bule Belanda (true story) Chapter 2c: Cukup Sampai Di Sini

                                                       ***

Aku merasa belum kalah. Heru masih bisa diatur seperti dulu. Tapi aku tidak senang dia punya perempuan lain. Akhirnya aku menjalankan misiku. Aku memaki-maki si perempuan berjilbab itu melalui sms. Mengancam bahwa aku akan menghajarnya. Aku juga membuat iklan ‘wanita mencari jodoh’ dengan nomor HPnya. Aku usahakan supaya dia pergi dari kehidupan Heru. Aku menjadi gila karena cinta. Apa yang aku dapat? Apa aku menginginkan Heru? Tidak! Justru aku mendapat ancaman balik akan dilaporkan ke polisi jika aku mengancam perempuan itu. Hingga suatu saat perdebatanku dengan Heru berujung pertengkaran fisik. Hampir saja aku menampar dan mencabik mukanya…

 

***

Tidak ada yang harus aku pertahankan. Aku tidak mengharapkan Heru. Aku tidak ingin bersamanya. Aku hanya tidak terima diperlakukan demikian pedihnya. Aku sangat terluka dan trauma. Aku tidak sanggup berjalan sendirian dan berpapasan dengan kedua orang itu. Aku tidak sanggup berjalan sendirian di perempatan jalan dan melihat belokan, seolah kedua sejoli itu akan muncul dari belokan jalan sambil tertawa riang. Jantungku selalu berdebar ketika berpapasan dengan perempuan berjilbab. Rasanya aku langsung lunglai dan shock. Aku trauma.

Aku mengalah dan memutuskan untuk pergi dari kos. Aku mencari tempat kos baru dan pindah secara mendadak. Setidaknya aku telah menjauhi bayangannya. Aku berusaha bangkit. Aku bersenandung setiap pagi. Mendengar musik selama berjam-jam, tapi kadangkala menangis secara tiba-tiba. Aku menyibukkan diri dengan pekerjaan. Aku curhat kepada teman-teman. Namun tidak satupun yang bisa mengurangi rasa pedih di hatiku.

 

***

Disaat-saat aku membutuhkan seseorang, seseorang itu menghianatiku dan membuat hatiku sakit. Aku berfikir, apa dan siapa yang tidak akan melakukan seperti ini padaku? tidak satupun kecuali bukan manusia. Siapa? Hanya Allah Swt. Mengingat demikian, aku kemudian mencari cinta yang baru, berusaha mendekatkan diri kepada Nya dan mencoba berzikir setiap selesai solat. Aku merasa tenang.

READ  2.4 Lelakiku Bule Belanda (true story) Chapter 2d: Perjuangan Season 2

Hari demi hari aku mulai menumbuhkan cinta baruku. Aku ingin sembuh dan memaafkannya. Hanya kepada tuhan aku meminta. Dan hanya tuhan yang tidak mungkin menginjak-injak harga diriku. Hanya kepada Allah aku memohon agar aku mencintai Nya sepenuh hati dan aku yakin Ia tidak akan meninggalkanku.

 

***

Rasa sakit, tangis, dan pedihku dari beberapa bulan lalu masih tersisa. aku terus berusaha membangkitkan semangatku dan diriku, juga memperbaiki kondisi badan yang sempat turun tujuh kilo dalam dua bulan. Aku disiplin dalam berzikir setelah solat. Dan sebuah tambahan aktivitas baru sehari-hari; selalu berzikir di sepanjang nafasku. Mulai dari aku bangun, berangkat ke kantor, di sela-sela pekerjaan, istirahat dan perjalanan pulang diatas kendaraan, aku tidak henti-hentinya bergumam; “Subhanallah”, “Allahuakbar”, “Alhamdulillah”, dst. Di sela zikirku itu aku memohon; “Ijinkan hamba hanya mencintai Mu ya Allah…”

Inilah suatu mukjizat yang aku dapatkan. Hanya dalam beberapa bulan, aku lega dan kembali bernafas tanpa isak tangis dan dada yang serasa ditekan. Akhirnya hanya zikir dan cintaku yang baru yang menyelamatkan hari-hari burukku. Aku tidak saja melepaskan Heru dari sakit hatiku. Aku juga memaafkannya dan membiarkan dia tetap menjadi temanku.

Sampai hari ini, detik ini aku masih mencintai Nya di urutan pertama. Aku membagi ceritaku kepada teman-teman dan menjabarkan satu obat mujarab yang ku jamin 100% berhasil. Apa ada yang sanggup sembuh dalam hitungan bulan ketika keadaan demikian menimpa kalian? Kalau Anda tidak yakin, maka ikutlah caraku.

Jika Anda ingin sembuh dari luka yang begitu dalam, sakit hati dan pedih yang demikian parah. Resepnya gampang; Bernafas dan Berzikir. Insyaallah….

bernafas-dan-berzikir-480x360

catt:

Cerpen ini pernah dikirim ke audisi AMB, tapi nggak lulus

(Inspired from a life’s story)

Facebook Comments

15 Comments

Leave a Reply to Yusuf Agustaf Stefany Cancel reply

Your email address will not be published.