Part 14: Dari Leeuwarden ke Groningen

 

Leeuwarden

Selama liburan ini, gw tinggal di Leeuwarden, sudah gw bilang kan? Leeuwarden adalah ibukota provinsi Friesland. Penduduknya sedikit dan agak sepi. Jika dibandingkan dengan Bogor yang juga kota kecil, atau Bukit tinggi yang dingin, gw rasa kedua kota di Indo ini masih lebih rame dari pada Leeuwarden. Pusat kota Leeuwarden hampir sama dengan pusat kota lainnya di Belanda. Di Padang, pusat kotanya adalah pasar raya Padang, nah di sini yang disebut pusat kota “kota” yakni pasar dan pusat pebelanjaan. Pusat kota di Leeuwarden sangat luas, dan isinya semua pusat perbelanjaan. Dari pangkal blok sampai satu kilometer ke ujung blok semua toko belanjaan. Mayoritas pakaian dan kosmetik, di selingi kafe. kalau gw perhatikan, tiga jenis toko ini yang paling banyak. Yaitu; toko fashion, toko kosmetik dan kafe. Sisanya adalah salon, barbershop, bioskop, apotik, toko Turki, toko Indonesia, toko roti, toko bunga, toko HP, bahkan bioskop. Semua macam toko tersambung dalam blok yang simetris. Kalau ada persimpangan, nanti blok arah kiri atau kanan masih sama. Model gedung nya monoton. Tidak ada perbedaan blok antara supermarket, mall dan toko kecil. Semua satu baris, dan dindingnya bersebelahan. Sebenarnya susunan demikian menurut gw normal, sama seperti Jl. Permindo di Padang, atau Jl. Malioboro di Jogja, atau Pasar Baru di Jakarta. Yang bikin gw merasa beda adalah kebersihannya yang luar biasa dan pengunjungnya yang tidak terlalu sesak. Sehingga membuat kita nyaman berbelanja.

Perjalanan ke Groningen

Kemaren gw ke Groningen, kota lain di bagian utara Belanda. Kalau berangkat dari Leeuwarden lewat jalan raya pakai mobil, biasanya bisa ditempuh dalam waktu kurang dari sejam. sehubungan gw naik kereta, dan jalur kereta nya muter pinggir kota, jadi jarak tempuh semakin terasa jauh. Begitu juga kalau ke Amsterdam. dari sini hanya 1,5 jam pakai mobil. Tapi kalau lewat kereta bisa dua jam-an. sepanjang kita naik kereta, yang dilihat hanya perternakan sapi, domba, dan kuda. Peternakannya luas banget, numpang lewat pinggir peternakan pakai kereta aja bisa makan waktu setengah jam. Masing-masing sapi sepertinya dikasih kavling luas banget, bisa guling-gulingan, jumpalitan sampai 300 meter per sapi. Halah… pokoknya luas banget dan sapinya buanyak banget. Makanya harga daging, susu dan keju di sini jadi murah. Soalnya di Belanda bisanya hanya berternak sapi. (ssshhhh… makanya menjajah Indonesia)

READ  Part 7: Hal Aneh Menurut Gw tentang Belanda

Di saat perjalanan menuju Groningen, Geart sibuk memperbaiki kamera yang rusak yang dibeli di internet untuk dijual kembali nantinya. Geart juga membawa peralatan servisnya yang lengkap dan mengutak-atik kamera sepanjang perjalanan di atas kereta. Selama liburan ke Indonesia, Geart nggak pernah sesibuk ini. Doi berlaku seperti benar-benar pelancong. Ternyata di negaranya, doi adalah tipikal orang Eropa yang tidak malas dan tidak buang waktu. Gw salut dengan orang-orang ini, khususnya Geart. Ketika doi menjemput gw ke Bandara, doi juga membaca buku pelajaran selama perjalanan tiga jam dari Amsterdam ke Leeuwarden.
Mau punya pacar orang Eropa?

Kereta antar kota

Kereta di Belanda bersih seperti kereta Express AC di Jakarta. bedanya, di sini nggak pakai AC dan tidak dilarang membawa makanan dan minuman ke dalam kereta, bahkan membawa sepeda. Kalau mau membawa sepeda dari satu kota ke kota lain, asalkan punya penyangga sepeda sendiri, sepeda bisa dimasukkan ke kereta dan diparkir dekat pintu keluar. Penumpang juga boleh membawa makanan, dan makan minum di kereta. Ada satu atau dua meja dalam tiap gerbong. Model meja makan di kereta lain juga beda, ada yang mejanya dilipat di kursi belakang seperti meja di pesawat terbang, dan yang pasti ada tong sampahnya. Hebat ya… boleh makan minum tapi kereta nya tetap bersih. Umumnya kereta sepi penumpang, nggak seperti di Indo yang sesak. Untuk kereta yang rame penumpang sudah didesain kereta dua lantai, jadi tetep aja nggak sesak. pokoknya nggak pernah rame dan sesak. Tau kenapa? karena karcis nya mahal! Hitungannya begini, waktu gw naik kereta dari Jakarta ke Bandung pakai tiket bisnis beberapa tahun lalu, harga nya empatpuluh ribu. Sekarang berapa ya? Jakarta – Bandung kan jaraknya tiga jam. Nah, tiket Leeuwarden – Groningen yang tidak sampai tiga jam ini harganya sekitar duaratus ribuan. Untungnya Geart pakai kartu langganan, jadi diskon deh.

READ  Part 6: Kesan Pertama Melihat Negara Belanda

Groningen

Kota Groningen lebih padat penduduk dan lebih ramai dari Leeuwarden, pusat perbelanjaannya pun jauuuhh lebih luas. Orang-orang nya pun lebih beragam, lebih rame, lebih berisik. Di pusat kota diantara pusat perbelanjaan juga ada universitas; University van Groningen, juga ada kafe, gereja, beberapa musium, hall dan lapangan buat gelar musik band, dsb. Kalau dibandingin Tanah Abang di Jakarta masih kalah deh. Pokoknya luas, lebar dan panjang. Bikin gw capek jalan kaki. Enaknya lagi, stasiun kereta dekat dengan pusat kota, Jadi tinggal jalan kaki. Toko-toko pakaian di Groningen juga lebih banyak, khususnya yang branded, seperti original-nya Adidas, ori Mango, dll. Harganya sudah pasti murah, untuk kisaran duaratus ribuan seharga baju branded asli di Eropa itu dah murah. Mereka juga punya stock yang diobral seharga dibawah seratus ribuan yang masih bagus. #tapi menurut gw nggak tuh, karena sizenya gede semua 🙁

Di Groningen, gw hanya menghabiskan waktu berjalan kaki dari ujung sampai ke ujung. Ada sih beberapa musium yang bisa dikunjungi, tapi sayangnya gw kurang berminat. Seperti musium fashion, asal usul bahan pakaian, dll. Hal unik yang gw sukai dari Groningen adalah stasiun nya yang tua tapi canggih dan parkiran sepeda di stasiun. Stasiun Groningen dindingnya tinggi, langit-langitnya indah, berbahan kayu dan pintunya pun terbuat dari kayu. Namun hebatnya, pintu-pintu kayu tersebut adalah pintu sensor otomatis. Parkiran sepeda nya juga besar sampai dua lapis.

Setelah berjalan berjam-jam, keluar masuk toko pakaian untuk sekedar cuci mata, akhirnya gw kelelahan dan hampir emosi karena berjalan terlalu jauh dan nggak ada juntrungannya alias nggak dapat apa-apa. Padahal ada sale dimana-mana, dan selalu ada sale untuk akhir musim, dan Groningen adalah salah satu pusat perbelanjaan yang gede. Bluhh… Gw menyempatkan diri bersantai di sebuah kafe terbuka dan minum segelas coklat panas lagi. Kali ini gw juga dapat bonus. Sepertinya ini trik penjualan. Orderan lalu, gw mendapat bonus sebuah coklat batangan ukuran kecil seperti bungkusan menu di pesawat. Kali ini gw dapat biskuit yang enak banget, sampai gw memakan jatah biskuitnya Geart. This is a marketing trick and you should learn! Sambil duduk, gw menatap seekor merpati berwarna biru yang sedang mematuk-matuk lantai mengambil makanan di bawah meja kafe di sebelah gw. “Nggak kebayang kalau ini kafe terbuka Indonesia di pinggir kota, mungkin yang sedang gw lihat itu adalah seekor ayam kampung, bukan merpati”


READ  Part 8: Mengunjungi Fries Museum Leeuwarden




 stasiun Leeuwarden



dy>

 Kereta api ke berbagai kota di Belanda






Kereta lokal dari Leuwarden ke Groningen











Leeuwarden City:












Groningen City:

 background nya stasiun Groningen






yle=”clear: both; text-align: center;”>


La Place adalah shopping mall semacam Matahari Plaza atau Carefour yang lengkap dengan foodcourt nya







Universitas Groningen




 parkir sepeda di stasiun groningen.





 gedung operasional stasiun Groningen






gedung model tua tapi pintu kayu nya otomatis.




gedung model tua tapi pintu kayu nya otomatis.
Facebook Comments

6 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.