Part 3: Hari Pertama di Belanda

Cipika Cipiki Cipika (3C)

Sebelum gw ke Belanda, Geart sudah titip pesan tata cara salam ala Belanda yang akan gw terima dari kedua orang tuanya, yakni 3C; cium pipi kanan, cium pipi kiri dan sekali lagi cium pipi kanan. Kalau sampai gw tidak melengkapi 3C, menurut doi, hal itu akan membuat malu orangtuanya. Karena gw sudah jauh-jauh hari menghapal cara tersebut, jadinya gw nggak lupa ketika bertemu dan berpelukan dengan sang camer. Sepertinya budaya ini tidak lazim diterapkan di Padang yang merupakan kota religius. Berbeda dengan Jakarta, saat gw terakhir di Jakarta berniat pulang ke Padang dan hendak berpisah dengan teman seperjuangan yang berwujud lelaki, gw tidak sungkan-sungkan cipika cipiki dan memeluknya erat. Jadi buat gw, budaya ini tidak melawan norma kehidupan gw. Justru yang melawan norma kehidupan gw adalah apabila wujud manusia yang bakalan gw peluk itu; bau ketek. Nah, itu baru melanggar Undang Undang Dipeluk pasal 316 ayat 2.

Sambutan jamuan makan malam

Gw tiba di Belanda sudah sore, dan berada di rumah camer malam hari. Setelah sedikit berbasa basi, gw langsung dijamu makan malam menu Indonesia, yakni bakmi goreng ala chef camer bule Belanda. Luar biasa sekali penghargaan camer kepada gw. Selain bakmi goreng yang rasanya agak mirip dengan mie goreng Indonesia, camer juga menyedikan Sambal Oelek setoples ukuran setengah ons. Weleh… weleh… perhatian sekali camer gw ini. Tapi sayangnya, sambalnya pedas banget, nggak bisa dikunyah. Jangankan orang, kucing pun tidak suka. Pedasnya membakar kerongkongan dan gw terpaksa dengan jujur bilang kalau itu bukan menu biasa buat gw. Mata gw pun sampai berair dan berwarna walaupun hanya ‘nyobain secuil. Camer bilang, ini dari toko sambal terbaik di kota Leeuwarden. ‘Owh, maaf Cam, ane nggak bisa makan ini. Daripada ane keder makan beginian tiap hari terus sebulan masuk kubur, mendingan ane putus sama Je (baca: yei) punya bujang’

READ  Part 23: The Legend of Cap van Elbaria (Day 4: time to leave)

Pinjaman seperangkat baju dingin camer

Di musim panas ini, kebetulan cuacanya dingin banget. Camer sudah tahu kalau gw ini penyakitan, dan tidak tahan dengan udara dingin. Gw pun tidak sungkan-sungkan menunjukkan akting menggigil sepanjang gw berada di luar maupun di dalam rumah. Baju-baju yang gw bawa hanyalah baju kaos dan celana jeans, berikut satu buah sweater kaos ala Bandung yang sudah gw pakai sepanjang perjalanan di pesawat dari Jakarta ke Belanda.

Camer gw terdiri dari dua orang, dan yang meminjamkan gw baju dingin hanya satu orang. Syukurlah keduanya nggak sampai rebutan. Camer gw yang perempuan ternyata nggak jauh beda ukuran badannya ‘ma gw. Makanya baju hangat ala Eropa punya camer bisa gw muat-muatin. Ada beberapa jaket dan jas yang ditawarkan camer untuk gw, namun ke-selusin-an baju yang sudah gw coba tersebut membungkus gw bagaikan gulungan kain di toko tekstil. Akhirnya, pilihan gw jatuh pada satu jas saja dan sebuah syal bermotif burung merak. ‘terima kasih atas perhatianmu Camer…’

Perbedaan waktu dan jam tidur

Jam gw menunjukkan pukul 03.00, tentunya pagi WIB. Sejak di Belanda, gw belum mengatur ulang jam tangan gw kerana gw masih ingin mengikuti jadwal makan, jadwal tidur dan jadwal bangun di Indonesia selama beberapa hari di minggu pertama selama di Belanda. Menurut pengalaman pelancong antar benua, mereka akan merasakan yang namanya jetleg akibat perubahan waktu dari kebiasaan sehari-hari. Demikian juga dengan gw, sedari tadi makan malam jam 07.00 waktu Belanda sedangkan jam 02.00 waktu Indonesia, gw sudah mulai terkantuk-kantuk dan mata gw kadang-kadang memejam sambil bicara dengan camer. Kepala gw hampir pusing menahan kantuk. Kalau gw memaksakan diri melayani camer berbicara sampai tengah malam, tentunya gw akan kehilangan waktu tidur dan jatuh sakit di kemudian hari. Makanya, gw dengan sigap dan tegas membuat keputusan di sela pembicaraan kalau jam segini gw harus istirahat.

READ  Part 5: Kesan Pertama tentang Orang Belanda

 

 

 

 

 

Facebook Comments

2 Comments

  • nes

    Mba sharing cerita pernikahannya dong hihi aku terinspirasi loh mba sama perjuangan mba dan geart, kebetulan aku lagi berjuang juga mba :’)

    • Caprivhia

      hahahha pengen sih sebenarnya sharing, tapi lagi gak mood banget nuis. udah lama say blog nya dicuekin. ni baru liat lagi :p

Leave a Reply

Your email address will not be published.