Kasus Tahi Lalat Sebesar Koin Kecil Prita

Berhubung dokter bedah tersebut bersebelahan prakteknya dengan dokter kulit, langsung gw meluncur ke sana dengan amplop surat pengantar. setelah antri hampir 1 jam, dan memulai topik tahi lalat yang gagal operasi dari dokter sebelah, si dokter bedah kemudian menjelaskan bahwa ini bukan tahi lalat biasa. ini tumor kulit yang namanya paparomi/ paparoni/ paparonie.. (lupa) dan tidak sepantasnya di ‘sayat’ doang seperti yang hendak dilakukan dokter kulit tadi. biaya pengangkatan kurang lebih Rp. 1.750.000, –

hmmm… berfikir dan berfikir…

tadinya cuma 300 ribu, sekarang kok jadi 6 kali lipat?

dengan terpaksa gw bilang ‘saya tidak sanggup operasi pak’ (MUUUUAAHAALLL!!)

“gimana kalo saya pelihara saja tahi lalat saya yang cantik ini?”

mulailah sang dokter bedah mengambil sebuah pulpen dan nota kosong sambil menjelaskan layaknya dosen memberi penjelasan kepada mahasiwa..

“jadi… tahi lalat ini tidak tergolong ganas, kalo yang ganas itu mempunyai beberapa ciri a,b,c,d…”

“a,b,c,d itu apa pak?” gw bertanya sambil melihat tulisan di nota.

READ  Lelakiku Bule Belanda Chapter 2b (True Story): Tantangan Akhir Tahun

“a apabila tahi lalat itu tidak simetris alias asimetris, tidak bulat, tidak segi empat, dan justru tidak beraturan atau asimetris tadi” si dokter mulai menggambar bulatan, segiempat dan kurva matematika.

“b apabila tahi lalat itu berdarah, gatal dan berbentuk keloid”

“c dan d dan seterusnya…, masih banyak lagi”

“ooo.. jadi tahi lalat saya aman dong pak?” jawab gw sambil manggut manggut.

“untuk sementara ini aman, asal jangan sampai kena matahari dan jangan dikasih obat2an atau di guras dan disayat sendiri..” jelas sang dokter.

“ooo…” manggut-manggut lagi.

gw mulai bertanya dan curiga dengan tahi lalat gw yang sudah di utak atik si dokter kulit tadi,

“pak, tadi si ibuk kan udah kasih bius ke tahi lalat saya, trus saya dengar caranya tadi di bakar pinggirnya, apa ini gak apa2 pak? boleh si bawa mandi gak? nanti bahaya gak pak?”

“untuk saat ini gak pa pa.. tidak berbahaya.. tapi sepertinya emang harus di angkat. kalo nggak nanti tambah besar..”
“jangan kuatir, nanti kita bikin bekasnya seperti garis, bukan seperti lipan, begini loh cara kerjanya…” sambil membentuk sebuah bulatan dan dikelilingi oleh lingkaran lonjong untuk menjelaskan kulit yg harus diangkat.
“nah nanti jadi nya seperti ini…”‘ sambil menggaris sebuah garis lurus seolah gw gak ngerti apa itu garis lurus.

“ooo.. yayayya, jadi gak seperti kata orang ya pak, justru habis di operasi malah kayak gundukan daging bengkak”

” O tidak…”

 

hmmm…

think think..

sepertinya gw cukup puas dengan penjelasan dokter yang satu ini, dan gw pun berpamitan pulang.

jedah iklan…

—-

sesampai di rumah, rasanya bekas tahi lalat yg sudah di lukai mulai perih karena bius sudah mulai hilang.
keesokan hari pun gw tidak mau mandi karna tidak ingin membasahi tahi lalat gw. (alasan sepele untuk malas mandi)
di hari ini… tahi lalat itu berdarah dan mengering, dan… sebagian kulit agak terkelupas.

READ  Cerpen: Bernafas dan Berzikir

huh. ini pasti kerjaan si ibuk itu!! katanya gak papa.
tadinya tahi lalat gw yg simetris tanpa gundukan, sekarang menjadi bengkak yg tidak simetris.
maksud hati mau buang sial atau buang tanggung jawab. malah jadi tambah jelek.

ini pelajaran buat teman2… sebagai pelajaran biologi mengenai tahi lalat. halahhh..

Semoga bermanfaat.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.