Kisah di Balik IKLAN Gw (Bukan VIDEO KLIP gw)

Sabtu tanggal 14 Juni 2008, gw berpartisipasi memuat tiga baris iklan di kolom Kompas yang pastinya sudah terpercaya, dengan nilai investasi 110.000 Rupiah. Gw mempunyai harapan sama dengan para pengiklan lainnya yakni mendapatkan feedback dari iklan yang kita muat. Bunyi iklan yang gw maksud adalah sebagai berikut:

Susun Lap Keu dan Sistim Admin utk pershn baru Eng/Indo hub 08180706894x yulviaresume.blogspot.com

Di hari H, Hand Phone adalah barang paling berharga yang tidak akan gw abaikan begitu saja. Setiap suara yang dikeluarkan oleh sang HP seolah sebuah surprise yang senantiasa membuat hati gw deg-degan. Akhirnya satu pesan singkat pertama dari nomor tak kenal gw baca;

“Anda Wanita, butuh teman kencan? Hub saya He******. TB/BB *******, pnis 18 inch, … … sanggup melakukan apa saja.

Surprise!! Apakah iklan gw berada di kolom Kontak Jodoh? Tentu tidak! Ia ada di kolom Cari Kerja. Ah sudahlah, gw langsung menghapus pesan tersebut. Jangankan menghubungi seorang pria berinisial H ini, menyimpan pesannya saja gw malu (Karena penisnya terlalu panjang – red). Apakah p**** itu kata yang tabu untuk dibicarakan? Say it again! penis penis penis penis penis penis penis penis penis penis penis penis penis penisssssssssssss (Ough… I am so excited – red)

Hari pun beranjak sore, pesan demi pesan berdatangan. Ada pesan yang mengajak kerjasama penjualan voucher, busana muslim, ada pula yang menawarkan agent asuransi, dan ada yang menawarkan PELEDAK (iihhh takut). Pesannya seperti ini;

“RAHASIA MELEDAKKAN PENJUALAN 1000X LEBIH DASYAT DARI IKLAN BARIS. MAU? ……”

Ooo… kirain bahan peledak mas. Dan ternyata ada yang menyangsikan umur gw dengan pesan sebagai berikut;

READ  Lelakiku Bule Belanda (true story) chapter 1: Pede Abis!

“Jika Anda berumur 17 tahun keatas, kami undang anda untuk walk interview ……”

Sayangnya umur gw bukan 17 tahun ke atas, melainkan 25 tahun ke atas, jadi gw gak pantas menghadiri interview tersebut. Pesan dengan kategori the most favorite adalah pesan dari pencaker yang minta pekerjaan dari gw. Mereka memperkenalkan diri dan tertarik membantu pekerjaan gw (ya situ sih tertarik, tapi sini gak tertarik sama situ! – red). Gw tidak pernah membalas satupun dari pesan-pesan tersebut kecuali satu pesan yang masuk di hari ke empat, saat gw sudah tidak lagi memperhatikan dan mengharapkan apa-apa dari iklan yang sudah gw muat.

“Slamet pagi bu Yulvi, saya D****, berminat untuk … … “ (berminat melamar saya? – red)

sebuah kata ‘slamet’ dan kata ‘berminat’ menggelitik pikiran gw untuk membalas pesan tersebut. Dengan singkat pula gw segera membalas.

“Slamet kan Badak Jawa”

Tidak cukup tiga menit, balasan dari dunia maya sudah datang

“Maksud Ibu apa?”

Ah sudahlah, gak penting. Gw gak bermaksud apa-apa. Slamet-nya yang punya maksud. Gw sudah tidak tertarik dengan situasi ini. Benar-benar tidak sesuai dengan yang gw harapkan. Harga 110 ribu itu mahal lho… di kampung gw tiga baris cuma 20 ribu man… (iya sih, itu kampung! Gak penting dalih lo – red). Apa Jakarta sudah tidak menginginkan gw lagi? Habis manis sepah dibuang? Begitu cara lo? (ya iyalah masak ya iya dong, makanya sekolah… jangan sekodong – red)

Hari berikutnya sudah tidak gw perhitungkan lagi, sama sekali! Lima hari berlalu bo! On the D Day gw ngelamar lagi. On the way mengantarkan lamaran ke sebuah proyek yang sedang berjalan untuk posisi project secretary, gw dapat telepon dari seorang wanita pada saat gw sudah masuk lingkungan proyek yang berisik.

READ  Sesuatu yang Tidak Pernah Ku Duga Tentang MALAYSIA – (cerita 2)

“Hallo… Yulvia ya?”
“Iya Ibu, dari mana?” (agak berteriak)
“Kamu ngerjain pajak juga gak?”
“Ng.. bisa sih Bu.”
“Kira-kira berapa ya?”
“Aduh… saya gak bisa kasih harga begitu aja Bu.” (Klang kling Klag Kling – suara berisik pengerjaan proyek). “hmmmm… Ibu, saya lagi di jalan, nanti saya telpon Ibu deh”

Jujur aja otak gw belum bisa mencerna apa yang sedang gw bicarakan. Sudahlah nanti gw urus, setelah yang satu ini.

Satu jam seusai lamaran berikut test translate-nya, gw langsung menuju warnet yang berlokasi di Blok M, sembari pulang tentunya. Gw mengumpulkan data-data tentang pajak terbaru, sekiranya dapat membantu gw dalam pekerjaan gw nantinya. Sesampainya di rumah, gw menyiapkan draft yang mungkin dapat memandu gw dalam tanya jawab antara gw dan client (cieeee… klien… – red). Yup, my first client, with few basic question. Setelah draft gw telan (telaah – red) dan tanya jawab pun berlangsung, sayang sekali Saudara-Saudara, misi ku tak berhasil. Si ibu gak mau dirayu untuk dibuatkan laporan keuangannya dan hanya meminta pengurusan pajak. (apapun tawarannya, tetap diminumnya teh botol Sosro – red). At last, dengan dalih harus bicara dulu dengan tim, gw harus mendapatkan partner yang bisa diajak kerjasama.

Beberapa menit memutar otak (hal ini sering terjadi pada Yulvia yang punya ide cemerlang hanya dalam hitungan menit – red), gw akhirnya menemukan seseorang yang gw yakini bisa membantu gw as a partner. Nah ini dia, iklan pencari kerja sebagai tax advisor. Wuih… bright idea! (sekali lagi, Yulvia Shandra ini memang terkenal dengan correct and fast decision maker – red). Gw telpon dong… Sang diva penyelamat telah gw jelasin bla bla bla dan akhirnya bersedia berkordinasi. Kami mebicarakan hal ini serius dan ingin bertemu hingga topik sampai pada perhitungan komisi dan bagi hasil. Finally, untuk yang ke empat kalinya gw menelpon klien gw dan menawarkan harga yang pantas dengan penjelasan yang lumrah.
Namun sayang, sang client yang kita (tim finance dan tax advisor – red) ributkan menolak tawaran dengan alasan ‘tidak sanggup membayar segitu’.

READ  Jokes: Andaikan Indonesia membeli Tank Belanda dengan Paypal

Ya elah, ibukk!

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.