Lelakiku Bule Belanda Chapter 2b (True Story): Tantangan Akhir Tahun

B. Tantangan Akhir Tahun.

Mengajak seseorang menikah bukanlah suatu hal mudah. Tidak semudah memilih pacar; jadian… kemudian berfikir dikemudian hari apakah hubungan itu mau dilanjutkan atau mau diputus di tengah jalan. Untuk memilih ‘pasangan hidup selamanya’ membutuhkan keputusan yang matang. Apakah dengan perubahan hubungan ini saya mendapatkan keuntungan? Apakah dia pun dapat keuntungan? Apakah taraf hidup saya lebih baik? Apakah kehidupan dia lebih terarah? Semua jawaban ini hanya bisa diketahui setelah menikah saja. Masa depan tidak ada yang tau bukan? Tetapi, saya tau dia! Saya membaca, saya mendengar, saya melihat, bahwa pria ini pekerja gigih, jujur dan bertanggung jawab. Pria ini hidup penuh semangat. Pria ini selalu menginginkan hidup yang lebih baik di kemudian hari. Pria ini selalu mengharapkan yang lebih bagus dari apa yang dimilikinya hari ini. Pria ini memiliki karakter yang berharga. Dia sangat berharga…
Tapi bagaimana dengan ibunya? Ayahnya? Budayanya? Agamanya? Umurnya? Sekolahnya? Inilah dilema baru yang menjadi tantangan dalam hubungan ini.

Geart pernah bercerita, “Budaya kami tidak menyuruh suami mencari uang saja dan menyuruh istri mengurus rumah tangga saja. Budaya kami tidak melarang suami memasak di dapur, bahkan menyiapkan sarapan untuk istri. Tetapi, di negara kami perempuan dan laki-laki sama saja. Mereka harus bekerja bersama, mengurus rumah tangga bersama. Demikian juga orang tua saya memiliki tabungan bersama, dimana suami dan istri sama-sama mencari uang untuk membayar kebutuhan rumah tangga.”

“Ayah dan ibu kami bukanlah orang yang berhak menentukan hubungan kami. Kami boleh menikah dengan siapa saja. Setuju atau tidak setuju, saya tetap bisa menikahi siapapun pilihan saya. Agama untuk kami bukanlah suatu pemaksaan, walaupun ayah saya seorang pendeta, tapi saya bebas memeluk agama apa saja.” Lanjutnya.
“Akan tetapi… Saya masih sekolah, tentunya kamu harus menunggu saya tiga tahun lagi.” (Glek)

READ  2.4 Lelakiku Bule Belanda (true story) Chapter 2d: Perjuangan Season 2

Mengingat umur yang semakin uzur, sang ayah yang semakin resah, saya harus bagaimana??? Berfikir dan berfikir, apakah saya menerima perintah perjodohan sang ayah yang gigih mencarikan pengganti si bule? Sementara saya sudah membuat si bule berkorban begitu banyak untuk saya. Dan lelaki ini adalah pilihan saya, orang yang mencintai saya, orang yang mau berkorban untuk saya, orang yang saya yakini akan bisa berdampingan dengan saya hingga tua. Inilah jodoh saya. Saya yakin, dia lah belahan jiwa itu. “Tapi… Kamu ini sudah hampir kadaluarsaaaaaa!!!” Itulah sugesti mereka.

Lalu saya bertanya, “Apa kau sanggup? Menjadi muslim tidaklah mudah. Kau harus dikhitan, kau harus belajar sembahyang, dan hidup secara Islam. Saya orang Minang, budaya saya lekat dengan agama saya. Bahkan saya sedang tinggal dengan orang tua saya, mereka tidak mengizinkan saya pergi jauh. Ini lebih sulit dari apa yang kau bayangkan!”

Kemudian saya lanjutkan diskusi panjang ini, diskusi yang menyesakkan dada, kalimat yang penuh dilema. Jika saya lontarkan pertanyaan atau pernyataan tersebut, tentunya saya harus menerima resiko kehilangan seseorang yang amat saya cintai. Tetapi, jika hal ini tidak saya sampaikan, saya tidak mendapatkan apa-apa dari kehidupan ini. Disamping itu, pria ini adalah pria dewasa, yang pernah berkata ingin menikah muda. Jadi dia bukanlah pria yang lemah dalam menentukan sikapnya.

“Saya akan mengorbankan segalanya untuk mendapatkan mu!” Dia menegaskan. “Tetapi apa kamu mau berkorban menunggu saya?” Tanyanya lagi.

Saya harus berkorban lagi? Menahan berbagai tekanan dari mana-mana. Memperpanjang periode menjadi beban dalam keluarga? Dan harus semakin sering mengelak dari orang-orang yang peduli bingits bertanya ‘Kapan kawin?’

READ  3.1 Lelakiku Bule Belanda (true story) Chapter 3a: “Aku datang melamarmu”

Saya akhirnya menjawab, “Aku punya keluarga, ayah dan ibu yang akan memberikan restu untuk hidupku. Aku tentu saja mau menunggu mu, tapi tidak ayahku. Ayahku sangat tidak setuju dengan mu.” Lirih ku sedih. “Kalau kau benar-benar sanggup memberikan janji menikahiku, datangilah ayahku dan mintalah padanya keikhlasan untuk membiarkan ku menunggu.”

Ini adalah salah satu hal sulit untuknya. Karena ayah saya tidak setuju saya menikahi bule. Ayah sangat takut anaknya jauh dari pandangan. Ayah sangat takut anaknya dipermainkan. Ayah takut agama pun diselewengkan. Sehingga saya mungkin akan tertipu atau bahkan terdampar. Tetapi Geart bukan pria yang mudah menerima kekalahan. Tidak disukai sang ayah bukan berarti harus mundur. Sebaliknya dia akan datang untuk merenggut kemenangan.

“Baik!” Jawabnya tegas. “Saya akan datang melamar mu tahun depan.”

Bersambung lagi….
Ditunggu likes and sharenya jugaaa 🙂

Facebook Comments

7 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.