Lelakiku Bule Belanda (true story) chapter 1: Pede Abis!

1. PEDE ABIS

Bacalah judulnya dengan semangat, “pede abis!” maka Anda akan merasakan betapa semangatnya saya meyakini bahwa saya memiliki kepercayaan dengan ke-PEDE-an yang tinggi dan serta merta ke-HABIS-an akal!

***

Untuk seorang perempuan yang punya serba kekurangan; kurang cantik, kurang tinggi, kurang duit, dan kurang sehat, alias: muka pas2an (baca: relatif), kurus, kere dan penyakitan… Apa lagi yang bisa menyelamatkan Anda dari situasi ‘minder’? Jawabannya adalah ‘kurang akal’. Dengan ‘kurang akal sehat’ tentunya, Anda akan lebih bebas bergerak dan berekspresi. Bahasa kerennya adalah ‘LEBIH KREATIF’.

Tahun 2008, adalah masa-masa di mana saya sedang bergejolak. Bagaikan krisis perekonomian yang terjadi di sebuah negara, saya tidak bisa berbuat apa-apa selain ingin menindas orang lain. Di tahun itu saya ditendang (rasanya) dari profesi sebagai seorang banker. Kemudian saya bekerja di sebuah perusahaan forwarder di daerah pelabuhan Tanjung Priok, yang akhirnya menendang saya juga dan alhasil saya pengangguran… Di masa inilah saya mengalah dan harus pulang ke rumah orang tua atas permintaan sang ibu.

Walaupun dengan hati yang bergejolak, memikirkan tentang karir selama 5 tahun yang sudah dibangun akan kandas, memikirkan semua aset yang sudah dibeli harus dijual, sementara yang bisa dibawa pulang ke kampung hanyalah ‘HUTANG kartu kredit’ :(. Apa kata dunia? Tetapi saya tetap pulang. Tanpa semangat. Akhirnya saya tiba di kampung halaman.

***

Sesampainya saya di Padang, saya menikmati hidup sebagai pengangguran. Setelah tiga hari tenggelam, akhirnya saya muncul ke permukaan. Saya jalan-jalan ke mall dimana adik-adik saya sedang meraup kekayaan, yakni dengan berdagang HP. Di counter adik saya inilah akhirnya saya berjumpa dengan Gghhhrrt. Seorang bule Belanda yang namanya susah dieja.

READ  2.3 Lelakiku Bule Belanda (true story) Chapter 2c: Cukup Sampai Di Sini

Hmmm… Anak ingusan, pikir saya.
“Nama kamu siapa” tanya saya.
“Gghhhrt” jawabnya.
“Aaaa? Bisa diulang?” Tanya saya lagi. Sambil mendekatkan kuping ke mulut si bocah. Berhubung suasana bising sekali karena musik dan hiruk pikuk pasar, akhirnya dia mengulang. Namun apa daya sang kuping tetap tidak bisa menangkap sinyal. Akhirnya saya memintanya untuk menulis namanya.
“Oh…. Geart” (baca ala English bukan Dutch), “susah amat namanya.. Ganti aja ya. Saya panggil kamu, Gery. Oke?” Dengan sedikit memaksa, akhirnya si bule pun berfikir ‘whatever lah.. Yang kaya elo banyak, sejuta umat, besok gw juga lupa sama lo’

Dan… Percakapan pun berlanjut.

Selama percakapan berlangsung, saya tidak memperlihatkan antusias sebagai penikmat pria bule, brondong, dan ganteng. Padahal, saya nge fans banget sama bibit beginian. Tapi masalahnya doi dari Belanda, yang mana saya baru ketipu sama bule scammer yang mengaku dari Belanda. Alhasil saya ilfil. Namun pertemuan berikutnya tetap terjadi.

Dari pertemuan pertama, kedua dan ketiga, yang tidak direncanakan tetapi terjadi setiap hari, membuat saya mulai berfikir… Ini bule pasti naksir saya! Hahahaa… Dalam hal ini mungkin saya masternya. Saya sudah pengalaman di tolak cowok. Mulai dari yang saya tembak langsung ditempat, sampai yang di tembak melalui arena biro jodoh, nggak ada yang mati klepek-klepek. Semua pada kabur dan berhasil melarikan diri. Mulai dari cara gampang nggak pakai duit, sampai cara susah mati-matian… Sudah pengalaman…. So, untuk kasus yang ini.. ‘lo pasti naksir gw!!’ Pede! Yakin!

***
Berkat kepedean tadi lah akhirnya saya mulai memberikan sinyal-sinyal kasih sayang dan perhatian. Tentunya ala kadarnya, berhubung saya masih kere dan sudah menganggur pula, saya cuma bisa mengajak kemana-mana menggunakan angkutan umum. Itupun dengan perjanjian bayar sendiri-sendiri. Sampai suatu saat saya bilang sudah kehabisan duit, dan meminta si bule mau membayar supaya saya tetap bisa mengajaknya jalan keliling kota ‘pake angkot’.

READ  Cerpen: Bernafas dan Berzikir

Seminggu hubungan pertemanan pun berlalu, di minggu kedua suasana semakin romantis. Saya berusaha membuat si bule melihat saya berbeda. Getar-getar cinta mulai divibrasikan, serangan-serangan asmara mulai diluncurkan. Talenta mulai dipamerkan. Saya bernyanyi untuknya, saya bermain gitar untuknya, walaupun cuma genjreng-genjreng doang tapi mengaku ‘ini lagu untuk mu’ yaelah…. Dan saya juga membawanya jauh ke tempat wisata mengendarai mobil pinjaman dari adik saya. Yang penting usaha! Akhirnya si bule pun jatuh cinta.

***
Sebenarnya ini rahasia, tapi ini adalah cerita. Rahasia ini hanya pembaca yang tahu, bahwa apa yang saya lakukan adalah trik. Cinta itu tidak mengalir begitu saja secepat kilat. Saya hanya punya waktu 1 minggu untuk membuatnya terkesan. Karena si bule harus kembali ke negaranya. Lalu sisanya adalah serangan bertubi-tubi. Tetapi untuk melakukan ini Anda harus pede dan kehilangan akal sehat. Tidak perlu rasa malu dan tidak peduli akan tertawaan orang yang mendengar.

Jadi, yang saya lakukan adalah merekam suara dengan nyanyian berlirik sedih, merana, meronta, memohon, memuja, yang semuanya berbau cinta. Saya juga merekam video yang memamerkan talenta saya, yang sebenarnya hanya bisa ditertawai orang banyak, termasuk cukup untuk membuatnya tertawa. Dan semua itu saya kirimkan satu demi satu, hari demi hari, minggu ke minggu selama berbulan-bulan. Sampai saya mendengar kata “Yes” setelah saya bertanya “Mau kah kau jadi pacar ku?”. Yessss…. (Kena lo! Klepek.. Klepek… Klepek…)

 

Tungguin cerita berikutnya, kalo mau ditulisin lagi, klik LIKE or SHRE ya…

10457778_800860069964370_4852496535760731074_n

 

Facebook Comments

15 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.