Part 15: Memasak di Ultah Camer

 

Camer gw yang laki merayakan ulang tahun yang ke 67 dan beliau mengundang semua anak dan pasangannya untuk makan malam di rumah. Sehubungan gw berada di sana, jadilah gw tawarkan untuk memasak masakan Indonesia. Well, demi tidak membuat pesta ulang tahun menjadi kacau, gw hanya menyiapkan cemilan dan sang camer yang hobi masak ini menyiapkan main course – nya; lasagna dan salad ikan salmon. Ayo tebak apa yang gw bikin? Goreng tempe!

Masakan gw

Kenapa goreng tempe? Karena tempe adalah cermin dari wajah Indonesia yakni murah dan merakyat.

“so what gitu lho?” EGP (Emang Goreng Tempe)

Rasanya tidak afdol kalau mereka hanya mencicipi goreng tempe, secara gw sudah berkoar-koar ke saudara-saudara lain kalau mereka akan mencicipi masakan Indonesia, dan ternyata itu hanya goreng tempe. Akhirnya gw berinisiatif membuat perkedel daging dari daging giling yang sudah menjadi menu standar di sini. Perkedel daging ini simpel banget, gw juga nggak pernah bikin sebelumnya, tapi karena gw hobi masak, ya bisa aja menebak bahannya. Caranya; daging gilingnya diuleni dulu, beri daun bawang iris, bawang merah iris, bawang putih tumbuk, sedikit merica, telur kocok, dan garam, diaduk-aduk, selesai. Bumbu dan dagingnya gw siapkan beberapa jam sebelum tamu berdatangan, dan berniat menggoreng perkedel satu jam sebelum acara di mulai.

Kado untuk camer

Untuk ulang tahun camer bapak yang juga hobi membaca ini, gw dan Geart memilih kado sebuah buku tentang pelukis Jansen yang menjadi inspirasi beliau melukis. satu buah buku lagi untuk menambah koleksi pustaka beliau, dan tentunya satu hobi lagi; melukis. Beliau sudah melukis di puluhan kanvas, sebagian dipajang di dinding dan sebagian hanya ditumpuk di gudang. Memberi kado di hari ultah, kado ucapan terima kasih, ucapan selamat, ungkapan perhatian, dll adalah salah satu kebiasaan orang Belanda. Bahkan katanya nggak sopan kalau kita bertamu ke rumah seseorang yang akan kita tinggali tanpa membawa apa-apa. Makanya kalau ke toko-toko terdapat banyak promo produk berikut box kadonya plus bonus bungkus kado.

READ  Part 22: The Legend of Cap van Elbaria Day 3: (good weather - bad mood)

Para tamu

Akhirnya para tamu berdatangan satu per satu. Tamunya hanya kakak-kakak Geart yang semuanya perempuan, dan datang dengan pasangannya masing-masing. Sebelumya gw sudah kenal kakak-kakaknya lewat Facebook, jadi pertemuan awal nggak kagok banget. Di samping itu gw juga sudah pernah saling kirim kado. Senangnya lagi, mereka tanpa terkecuali juga menyediakan kado untuk kedatangan gw. Waduhh… terharu, pada baik dan perhatian semua 🙂 habis Geart nya bungsu sih, satu-satunya anak lelaki penerus nama keluarga di masa depan.

Ngobrol-ngobrol

Selama menunggu jam makan malam, mereka bergantian ngobrol sama gw. Mungkin situasi gini buat orang lain agak nervous ya… untungnya gw nggak; yang sini ajak bicara tentang penjajahan Belanda di Indonesia, yang sana ajak bicara tentang pelestarian lingkungan di Indonesia, yang itu ajak bicara tentang pekerjaan gw, yang lain bicara tentang bagaimana gw selama di Belanda. Semua mau bicara… dan saling berbicara… ngingg… udah seperti tawon. Sumpah, gw pikir orang Belanda pendiam, tahu-tahunya kemana-mana yang ada ngobrooollll terusss.

The Sisters

Kakak pertama
Kakak Geart yang pertama lebih tua dari gw, lebih keliatan keibuan karena memang sedang hamil. Rambutnya keren banget, mirip Kaka Slank, eh… nggak ding, yang ini lebih rapi dengan bandana dan modis. Janeke tinggal di Groningen dan bekerja di sana. Gw tidak terlalu banyak bicara dengan Janeke karena katanya doi nggak begitu fasih berbahasa Inggris, sementara gw nggak mudeng bahasa Belanda. Janeke memberi kado gw cikal bakal bunga Belanda yang bisa ditanam dimana saja dalam bentuk kering. Ada yang berbentuk calon bunga dan ada yang bentuknya akar kering.

Kakak kedua
Namanya Lutske, orangnya rada gaul tapi nggak cuek, buktinya gw di kasih kado perawatan tubuh lagi. Tahun lalu juga ngasih kado seperangkat perawatan tubuh yang di bawa Geart ke Indonesia. Benar-benar tidak sesuai dengan penampilannya yang cuek. Luts menetap dan bekerja di Rotterdam, bekerja di sebuah yayasan yang menampung anak-anak yang tidak punya rumah, atau meninggalkan rumah dengan latar belakang yang berbeda-beda. Inilah satu hal lagi yang membuktikan bahwa dengan gaya berpakaian serta pernak pernik anting dan tato nya, doi bukan orang yang tidak peduli. Banyak hal juga yang gw tanyakan mengenai pekerjaannya, secara di Indonesia hal tersebut jarang ada sementara di Belanda, yayasan tersebut dikelola dengan baik dan pegawai nya juga di gaji dengan baik. Lutske bukan seorang sukarelawan, doi mengambil kuliah dengan jurusan sosial yang memang berhubungan dengan bidang ini.

READ  Part 3: Hari Pertama di Belanda

Kakak keempat
“Seorang master yang pendiam dan jarang berbicara” itulah label yang diberikan Geart untuk kakaknya yang termuda. Rinske sudah menamatkan beberapa kuliah S2 nya sekaligus. Doi suka sekali belajar, dan bidang yang digeluti sama dengan Geart yakni biologi. Pantas saja Rinske menanyakan bagaimana perlakuan Indonesia terhadap alamnya, hewan, tumbuhan dan hutan nya. Tidak benar kalau doi pendiam, ternyata Rins suka berbicara dan punya keingintahuan yang besar termasuk mengenai hubungan gw dengan Geart. Gw sangat hati-hati sekali menjawab pertanyaan Rinske, bukan karena takut menyinggung perasaannya, tapi justru karena jawaban gw akan dijadikan sebagai dasar bagaimana doi akan menilai Indonesia nantinya. Hmm… gimana ya? Dari cerita doi mengenai penelitian nya berbulan-bulan di sebuah hutan di Australia terhadap seekor burung, doi benar-benar serius ingin mengetahui jawaban ini. Jadi… jawaban gw adalah; Indonesia blablalablablalalb%&%&*^%$@#@titttttttttttttttttttt….

Sayangnya, kakak ketiga Geart tidak datang di hari ultah bokapnya, karena doi berangkat ke luar negri. Namun sebelumnya gw sudah bertemu dengan Hieke. Hieke datang sebelum hari H untuk memberi ucapan selamat dan memberi kado untuk si ayah. Namun begitu, pesta tetap ramai karena ketiga kakak Geart datang dengan pasangannya bahkan Lutske membawa Luna si anjing piara-an.

Makan malam

Saatnya makan malam yang tidak di jam malam. Sebenarnya jadwal makan malam di sini rata-rata jam 6 sore. Tapi karena tamu datang satu persatu dan tidak diwajibkan on time, akhirnya malam malam pun mundur menjadi jam 8 malam. Satu jam sebelum makan gw sudah menggoreng perkedel daging dan tempe. Sipp, selesai tepat pada waktu nya. Makan malam segera di mulai. Semua sudah tertata di meja makan termasuk menu special Indonesia. Taraaaa…. perkedel daging gw di puji-puji abis. huahahhaha… nggak pernah makan enak sih bule. Tapi lasagna camer gw juga enak banget, beda dengan lasagna yang di Pizza Hut, lapis demi lapisnya seger banget, dan buah olive nya juga banyak banget. Kalau salad salmon nya gw nggak begitu suka, soalnya pada mentah semua. mungkin karena belum terbiasa.

READ  Part 13: Mencari Baterai HP dan Menonton Transformer 3 3D

 

Facebook Comments

2 Comments

  • Anonymous

    Dear Uni…

    Bagaimana respon keluarga disana mengenai tempe goreng ala chefvia nya?..apa cuma itu saja makanan yang uni buat?..

    Regards

    Adek Liando

  • Admin

    hahahaha, hajar terus dek…

    tempe goreng katanya ueenak tenan. tinggal di kasih tepung kobe dek. rasanya sama kok dengan yg di Indo.
    yummy..

Leave a Reply

Your email address will not be published.