Part 8: Mengunjungi Fries Museum Leeuwarden

Musium adalah tempat wajib yang harus dikunjungi pelancong. Maka dengan undang-undang tersebut, gw selalu bersedia diajak ke musium yang menceritakan sejarah kota. Sebelum berangkat ke musium, kita sudah mengecek jam buka-tutup musium di website. Sesampainya di musium, Geart kecewa berat, justru bukan gw lho. Hal pertama yang kita temui di musium adalah galeri enam buah monitor komputer yang menampilkan ukuran kulit manusia yang berdenyut dengan zoom yang sangat besar, dan suara detak jantung. Gw tidak mengerti… Geart mencoba membaca keterangannya dalam bahasa Belanda, intinya adalah adanya kehidupan. Apaan tuh?!

Beranjak dari galeri di basemen yang membosankan, kita menuju sisi kanan dan sisi kiri yang merupakan sebuah ruangan kecil seperti kamar mandi. Benar, ternyata sebuah monitor lagi yang menampilkan proses pembuangan air di wastafel. Fyi, ini bukan benar-benar proses lho, hanya sebuah video tentang air mengucur di wastafel dan air menghilang ke salurannya. What? Geart semakin mengumpat-ngumpat. Hehehe, gw balik nanya “emang lo nggak pernah ke sini?” Terakhir katanya jaman SD.

Gw masih sabar, dan mengajak si uda melihat ruangan lain. Seingat gw, dari luar gedung, ukuran musium ini besar sekali. Tidak mungkin hanya galeri-galeri bodoh yang bikin gw geli. Beranjak ke lantai satu, dua dan tiga, melewati tangga kayu nan sudah tua namun kokoh, barulah kita bisa menikmati apa yang disebut dengan musium dan sejarah. Mulai dari bangunan musium, desain bawah tanah, dan bahkan sebuah loteng dimanfaatkan semua sebagai galeri. Di musium ini, yang paling banyak dipajang adalah foto sejarahwan. Sepertinya, Negara sangat mengenang para leluhurnya. Selain itu, gw juga melihat galeri pakaian dan mode, galeri peralatan makan dari perak, pakaian dan peralatan perang dan hasil bisnis rempah-rempah dari Indonesia. Heh? Bisnis rempah-rempah? Gw tanya sekali lagi untuk memastikan, “Honey, mereka tidak bilang hasil menjajah kah?”. Geart says “ Di sini tidak disebutkan begitu”. Mantaappp…

READ  Part 18: Kejar Tayang Rotterdam - Den Haag

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.