Part 20: The Legend of Cap van Elbaria (Day 1: begin)

Sebenarnya gw sempat bernjanji menghilang selama empat hari dan tidak bisa meng-update status Facebook ataupun curhatan gw ke dalam cerita tentang Belanda. Gw pikir, gw tidak akan bertemu sinyal dan jaringan internet di sini. Tapi, akhirnya gw kembali ke habitat. Ternyata cuaca di Dronten sangat tidak mendukung. Sebaliknya koneksi internet di hutan ini cukup baik. Mari kita belajar menulis lagi di tenda.

Baiklah para pembaca, inilah situasi gw saat ini di Elbaria; celingak, celinguk, hak, hek, oohh, basah, bersin-bersin, kedinginan, sakit kepala, hidung mampet, dan akhirnya menyerah. Sungguh malu rasanya mengubur niat gw yang ingin menguasai Elbaria dalam empat hari dan membuat legenda Caprivhia, yang ternyata hanya menjadi seorang petarung yang nongol pas jam makan doang. :((

The Legend of Cap

Kostum maha karya Geart memang keren. Walaupun doi menjahit seperti anak SMK yang lagi belajar, tapi kostum gw hasilnya luar biasa. Selain pakaian utama berupa sebuah baju ala perang warna hijau berbahan tebal nan berlapis-lapis , Geart juga menyiapkan kantong koin yang diselipkan di ban pinggang, juga dua buah ban tangan dari kulit dengan ikatan tali yang gw pakai di pergelangan tangan kanan dan kiri, serta sebuah gantungan dari bahan kulit keras untuk meletakkan pedang di ban pinggang. Dan ban pinggang gw adalah sebuah ikat pinggang kulit yang tebal dan keras. I am cool! I am the legend! The Legend of Cap.

Kemaren gw sudah mendaftarkan karakter gw sebagai petarung bernama Cap. Cap juga memdaftarkan beberapa poin kekuatan di tangan, kaki, dada, dan poin pertahahan sihir serta kematian. Dan semua poin yang didaftarkan harus dibayar dengan uang beneran. Cap juga diberi uang game senilai perak, perunggu dan emas sebagai kembalian dari semua kekuatan poin yang dibeli termasuk biaya kepemilikan pedang dan persenjataan lain yang dibawa selama permainan. Dengan latar belakang seorang legendaris dari luar Elbaria, Cap berharap menjadi legenda juga di kerajaan Elbaria. Namun ternyata, akting gw di dalam hutan berhujan-hujan hingga tengah malam telah membuat rhinitis gw kambuh dan akhirnya gw bersembunyi di tenda. Makanya gw bisa curhat lagi.

READ  Part 16: Berkunjung ke kampung camer di Jorwerd

Hari Pertama Cap di Elbaria

Cap bingung dan hanya bisa menonton teater open air di depannya selama beberapa jam sebelum ikut bicara dengan peserta lain. Cap memang sudah dilatih bertarung dengan pedang sebelum roleplay dimulai, namun permainan ini tidak untuk sekedar bertarung. Cap harus bermain karakter dan menjalankan misinya yang misteri, hanya dia dan Tuhan yang tahu. Hmmm… celingak celinguk, akhirnya Cap bertanya pada Herr Raphl ada apa gerangan. Kenapa semua orang di bar kelihatan meraung-raung sakit. Apa clue cerita tersebut. Sehubungan Herr Raphl bertugas menjaga Cap atas titipan sejak kematian ayahnya, maka Herr Raphl harus selalu berada disampingnya. Namun itu hanya dalam permainan, sedangkan di luar permainan, karakter Herr Raphl yang diperankan oleh Geart adalah pacar gw. Maka jadilah percakapannya sebagai berikut:

Cap : eh, honey… itu kenapa ya orang-orang di bar seperti orang sakit?
Herr Raphl : Tidak tau honey, I have no clue. Mereka ‘kan membuat karakter sendiri. Mereka kelihatannya seperti sedang terserang penyakit. Pokoknya jangan dekat-dekat karena kamu tidak tahu apa-apa dan jangan sampai ketularan.
Cap : Ok. (Dalam hati gw bilang; kalau gw dekat-dekat bisa ketularan gila kali… Mereka meraung-raung, guling-gulingan di atas meja bar, terseok-seok di lantai dan mencoba menggapai orang-orang nggak gila di sekitarnya)

Misi Caprivhia

Daripada gw mengira mereka pada gila semua, dan gw satu-satunya orang normal di sini yang tidak punya teman, mendingan gw ikut-ikutan gila bersama mereka. Siapa tahu gw bisa menang dan terkenal. Akhirnya karakter Cap mulai gw bangunkan. Gw mulai berbicara kesana kemari dan bertanya;

“hey, kamu siapa”
“apa yang kamu lakukan di sini?” (dalam hati: ngapain sih lo? dasar gila!)

READ  Part 23: The Legend of Cap van Elbaria (Day 4: time to leave)

Setelah mengenal beberapa karakter, Cap mulai berang dan ingin menguasai dunia. “akan gw rampas kekayaan orang di negara ini, akan gw beli mereka sebagai budak dan penjaga, dan akan gw bunuh raja itu dan gw rebut tahtanya! HUAHAHAHAHAHA!”
(ngimpi.com)

Akting sampai tengah malam

Demi mengibarkan misi gw tersebut, gw bela-belain mengikuti Herr Raphl kemanapun dia pergi. Kebalik ya, harusnya gw yang dikawal, tapi karena gw belum punya urusan penting dengan siapapun, terpaksalah gw jadi ajudannya Geart . Menjelang malam, hujan masih turun dan angin semakin dingin. Semua orang masih tetap dengan posisinya dan bermain dibawah hujan seolah tidak merasa kehujanan atau kedinginan. Suatu ketika Herr Raphl dipanggil oleh sang raja ke istana, gw yang tidak mau jauh dari doi terpaksa ikut. Padahal jarak istana cukup jauh ke dalam hutan dari bar yang teduh dan adem, maka dalam keadaan berhujan-hujan ria di tengah malam pun gw tetap berjuang. Sesampainya di istana, ternyata sang raja tidak mau tahu dengan gw, gw tidak diijinkan masuk istana dan terpaksa menunggu di luar istana (baca: tenda) tanpa payung dan diguyur hujan deras yang dingin hampir satu jam. Sebelum gw tepar, akhirnya gw mengundurkan diri dan kembali ke bar. Melewati tengah malam sekitar jam 01.00 dini hari gw istirahat dan kembali ke tenda.

 

legend of cap
The legend of Cap van Elbaria
The Legend of Cap
beberapa peserta LARP di medan perang Elbaria
Facebook Comments

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.