Part 21: The Legend of Cap van Elbaria (Day 2: get crazy)

Helloww… I am almost crazy here, crazy becouse of bad weather and crazy of wierd situation. Can anybody help?

Cuaca Buruk

Cuaca di Dronten tempat Shooting Elbaria saat ini masih hujan, angin kencang dan benar-benar dingin. Cieee…shooting euy. Seperti lagi main pelem. Yea…, semua orang bermain dengan kostumnya dan ada tim EO yang mengambil foto dan video dibalik layar, tapi tidak untuk publikasi. Kostum petarung yang gw siapkan tidak cukup menahan angin nan dingin menusuk hingga tulang-tulang gw berteriak kedinginan. Geart bilang cuaca seperti ini baru pertama kali dalam hidupnya. Bukannya karena tidak pernah terjadi hujan dan angin dingin, tapi karena ini summer alias musim panas. Harusnya ini hari terbaik gw untuk berlibur. Situasi seperti ini hanya ada ada di winter (musim dingin). Namun musim dingin memang akan segera tiba setelah musim panas ini. Tapi sepertinya mereka ingin menyapa gw lebih dekat, memperkenalkan hawanya yang menakutkan, menampar pipi gw hingga memerah, dan memukul hidung gw hingga tak bernapas. bluhh…

Dronten

Sebelum berangkat ke Dronten, kita sudah memperhatikan prakiraan cuaca dan menyidik lokasi lewat google map. Oh, ternyata Dronten jauh sangat dari Drachten. Gw pikir gw akan ke Drachten yang berjarak 40 menit dari Leeuwarden, namun ternyata gw baru tahu kalau Dronten itu bukan Drachten dalam bahasa Friesian. Dronten adalah wilayah baru yang berasal dari laut lepas dan dijadikan tanah oleh Belanda untuk memperluas kerajaan mereka. dan jaraknya 2.5 jam dengan mobil dari Leeuwarden. Luar biasa ya… Great effort. Perjalanan pun menyebrangi sebuah jembatan panjang penghubung daratan di atas laut. Wow… amazing. Ayo cari Wikipedia. Apa itu? Makanya di hutan ini dingin banget dan angin kencang berhembus dari arah laut.
Hutan yang disebut orang Indonesia berbeda makna dengan hutan yang dimaksud orang Belanda. Kalau dalam bahasa Inggris, hutan ini ‘wood’ bukan ‘forest’. Wood isinya pohon semua, ada yang ditanam rapi, ada juga yang sudah begitu adanya dan tidak ada binatang liar nya, tidak menakutkan dan pas untuk game. Satu lagi… sudah dua hari gw nggak nemu siput mangkal di tanah ini semacam yang ada di kampung gw di Pariaman.

READ  Part 15: Memasak di Ultah Camer

The Cap is in flue

Yayayayaya… rhinitis gw berat. Gara-gara sok yakin dengan keadaan kemaren-kemaren bahwa selama di Belanda keajaiban terjadi. Gw tidak pernah kena flu dan tidak terserang rhinitis. Di sini tidak ada debu, dan tidak pakai AC. Walaupun anginnya dingin, gw tidak terserang flu berat. Flu hanya bertahan beberapa jam karena gampang sekali mengembalikan kesehatan di sini. Makanan di sini terbaik, minuman di sini terbaik dan sehat. Air di sini bersih dan bisa langsung di minum dari kran tempat cuci piring. Air hangat untuk cuci tangan dan mandi selalu tersedia. Keajaiban itu terjadi karena kebersihan.
Ayo mulailah jaga kebersihan. titik.

What am i talking about? Let’s get back to work.

Gw masih di tenda cuyy… barusan tidur habis minum obat. Zzzzz…
Baru bangun setelah tidur empat jam dan langsung makan malam dengan peserta lain. Setelah makan, gw berbasa basi sebentar dan kembali ke tenda. Damn it, I have no clue what to do! Semua orang sudah berniat baik menanyakan keadaan gw; ‘apakah gw bosan?’ Nee… Ik heb prima.
gw intip sana sini, masuk ke bar, ke istana, ke medan perang, dan bla bla bla… ke tenda. Time to sleep and sorry to dissapoint you.

Dronten sekitar camp:
Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.