Trauma menjadi anak yang dinilai tidak baik sekaligus parno menjadi calon ibu yang akan dinilai tidak baik.

Saya rasa ini masalah orang tua dan anak, keduanya sama-sama bermasalah.

Saya sejak kecil seringkali bertengkar dengan ibu. Saya ingat, ketika masih duduk di bangku SMP, saat itulah saya mulai mendapat banyak ceramah hingga saya kuliah. Ceramah demi ceramah sang ibu yang hampir tiap hari bertujuan memperbaiki sikap saya yang menurut ibu buruk, tidak pantas, tidak baik dan berbagai alasan lain. Saya merasa apa yang saya lakukan tidak buruk, bahkan tidak menyakiti siapapun. Tapi hari demi hari akhirnya saya menumpuk rasa “serba salah” bagi ibu.

Sebelum saya menginjak dewasa, rasa “serba salah” sudah cukup membebani saya. Tapi masalah demi masalah terus datang dan menambah kesulitan hubungan saya dengan ibu. Saya berusaha memperbaiki, dan merasa amat bersalah ketika ibu marah. Pada suatu saat ketika  sesal saya  datang, saya menangis dan mempertanyakan “kenapa saya tidak pernah benar bagi ibu?”. Namun jawaban dari isak tangis tanpa kata tersebut dianggap ibu sebagai “rasa tidak terima” saya karena diceramahi. Dan hasilnya ibu semakin kesal.

Seringkali hal ini terjadi, saya menganggap ibu selalu salah paham dengan apa yang saya lakukan. Sementara ibu tetap berfikir saya selalu mengabaikan dan menolak petuah ibu. Hari demi hari, perkiraan tersebut malah menjadi nyata dimana saya selalu membantah ucapan ibu karena ibu selalu menuduh sikap saya sebagai tidak baik. Saya kerap kali menyakiti ibu dengan mengatakan “saya tidak mau ikut saran ibu”, “saya tidak mau”, “saya tidak suka”, “biarkan saya begini”, “biarkan saya sesuka hati saya”.

Di usia yang sudah tidak belia lagi, saya merasa sudah tidak perlu diatur sesuai keinginan sang ibu. Saya sudah mampu menentukan jalan hidup sendiri. Saya tahu mana yang baik dan mana yang benar untuk saya jalankan. Namun tidak bagi ibu. Saya tetap memiliki hubungan yang buruk dengan beliau. Ibu selalu mengutip hal-hal tidak baik dari saya. Bahkan akhirnya saya lelah dan berbalik mengutip hal-hal tidak baik sang ibu. Kemudian hal tidak baik tersebut saya jabarkan dan meminta ibu memperbaikinya juga. Tapi apa yang terjadi, ibu yang keras kepala dan merasa selalu benar ini sama sekali tidak mau menerima sikap saya. Saya dianggap tidak layak menyampaikan ini. Pada suatu saat saya menyampaikan kata “ibu jangan begini, ibu jangan begitu” disitulah saya selalu bertengkar hebat dengan si ibu. Bahkan akhirnya ibu mengeluarkan kata-kata “enyahlah dari sini”.

READ  2.3 Lelakiku Bule Belanda (true story) Chapter 2c: Cukup Sampai Di Sini

Saya sudah hidup lebih dari 30 tahun dan 15 tahun terakhir menjalani pertengkaran dengan ibu. Sudah belasan tahun saya dianggap sebagai anak durhaka. Saya sudah membuat kesal dan marah sang ibu ribuan kali. Saya sudah menyakiti beliau secara langsung dan tidak langsung selama ratusan kali. Pernahkah saya meminta maaf? Tentu. Pernahkah ibu memaafkan? Tentu. Tentunya menjelang hari esok saat pertengkaran baru kembali dimulai. Sehingga kata maaf sekali setahun di hari lebaran pun sudah tidak berarti.

Saya bukan orang luar biasa. Saya tidak seperti ibu. Banyak hal yang ibu tuntut namun tidak bisa saya penuhi. Saya tidak saja “tidak seperti ibu” tapi juga “tidak mau menjadi seperti ibu”.

Saya; dengan lingkungan, teman dan saudara yang menyayangi saya, merasakan kenyamanan saya sebagai manusia yang dapat diterima sebagai adanya saya. Itu membuat saya merasa cukup baik menjalani hidup saya dan menjadi diri sendiri.

Saya; sebagai anak dari ibu, merasa sangat sedih dengan sikap saya yang terus menyakiti ibu, namun saya lebih sedih lagi jika ibu tidak pernah melihat kelebihan saya dan mendukung saya untuk melakukan apa yang saya inginkan.

Saya; tidak sanggup menjadi anak yang baik untuk ibu dan suatu saat nanti saya pun tidak sanggup menjadi ibu untuk anak saya dengan cara yang sama.

 

—————————————————————————————————–

 

catt: berhubung banyaknya direct link dari google mengenai pencarian tafsir mimpi bertengkar dengan orang tua. jadi dibawah ini saya tambahkan link menuju posting tafsir mimpi, supaya Anda tidak kecewa>http://caprivhia.com/arti-mimpi-tafsir-mimpi-dari-primbon/

Facebook Comments

5 Comments

  • Zee

    Apa yg mbak alami sama persis dengan kehidupanku, aku skrg 25 taun, berpendidikan tinggi, dan ada apa yang boleh dibanggakan dalam seorang perempuan. Itu kata temanku. Tapi apa yg ku lakukan ngak pernah benar di mata ibuku. Aku smakin dewasa setelah pulang dari belajar luar negara semakin lebih memberontak, aku sering melawan cakap sebagai luahan ketidak puas hatiku… Jujur,
    Aku sedih setiap kali aku menjadi kasar sma ibuku tapi hatiku sakit.. Aku hanya mohon spaya ibuku lebih pengertian dan menerimaku seadanya..

    • Caprivhia

      sabar say, itu aja yang bisa saya bilang. Karena pengalaman saya, sampai sekarang saya udah umur 37 pun tetap tidak ada yang berubah. kita tetap lah anak, dan karakter ibu kita mungkin sudah permanent kali ya.. jadi gak bisa di rubah, apalagi dengan bertambah usia ibu. Jadi kita yang harus menyesuaikan diri. tetap berikan yang terbaik. jangan putus asa. karena semua yang baik akan dikembalikan ke kita juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published.